
Jakarta – Terbukanya arsip keanggotaan Partai Buruh Nasional-Sosialis Jerman (NSDAP) memunculkan babak baru bagi banyak keluarga di Jerman. Dokumen yang sebelumnya tersimpan di Arsip Nasional Amerika Serikat kini mengungkap fakta mengejutkan mengenai keterlibatan sejumlah leluhur dengan rezim Nazi.
Salah satu yang mengalami pengalaman tersebut adalah Hanno Dannenfeldt. Selama bertahun-tahun ia meyakini kakeknya merupakan seorang pendukung gerakan buruh berhaluan kiri dan tidak memiliki hubungan dengan Nazi. Namun pencarian dalam arsip justru menunjukkan nama sang kakek tercatat sebagai anggota NSDAP.
Temuan itu bukan hanya mengejutkan Dannenfeldt. Banyak warga Jerman kini berusaha menelusuri riwayat keluarganya setelah jutaan kartu anggota Partai Nazi dipublikasikan. Minat yang begitu besar bahkan membuat situs Arsip Nasional Amerika Serikat sempat kewalahan karena lonjakan pengunjung.
Selain sulit diakses, proses pencarian di arsip tersebut juga tidak sederhana. Pengguna harus menelusuri ribuan dokumen secara manual untuk menemukan satu nama, sehingga membutuhkan waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.
Melihat kesulitan itu, media mingguan Jerman Die Zeit mengunduh seluruh rekaman mikrofilm dari arsip tersebut lalu mengolahnya menjadi sistem pencarian yang lebih mudah. Pengguna hanya perlu memasukkan nama, serta dapat menambahkan tahun maupun tempat lahir untuk mempersempit hasil pencarian. Meski demikian, layanan tersebut hanya tersedia bagi pelanggan berbayar.
Bagi banyak orang, penemuan dokumen semacam itu menjadi pengalaman emosional. Sosok yang selama puluhan tahun dikenang sebagai ayah atau kakek yang baik hati, mendadak memiliki catatan sebagai anggota partai yang bertanggung jawab atas salah satu rezim paling brutal dalam sejarah dunia.
Selama puluhan tahun, pembicaraan mengenai keterlibatan keluarga dalam rezim Nazi cenderung dihindari di Jerman. Sebuah penelitian bahkan menunjukkan lebih dari dua pertiga warga meyakini leluhur mereka tidak terlibat dalam kejahatan Nazi. Sebagian menganggap keluarganya justru menjadi korban, sementara yang lain percaya leluhur mereka pernah membantu menyelamatkan orang-orang Yahudi.
Fakta sejarah menunjukkan gambaran berbeda. Perlawanan aktif terhadap Nazi hanya dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat. Pada 1945, sekitar 8,5 juta orang dewasa atau satu dari lima warga Jerman tercatat sebagai anggota Partai Nazi sehingga menjadi bagian dari sistem yang menopang pemerintahan Adolf Hitler.
Setelah Perang Dunia II berakhir, perhatian publik lebih banyak tertuju kepada tokoh-tokoh yang diadili dalam Pengadilan Nürnberg. Akibatnya, banyak masyarakat beranggapan hanya mereka yang duduk di kursi terdakwa yang bertanggung jawab atas kejahatan rezim tersebut.
Ilmuwan budaya Aleida Assmann menilai pandangan itu membuat sebagian besar masyarakat merasa tidak ikut bersalah. Persepsi tersebut baru berubah ketika dokter, pengusaha, hingga pegawai negeri juga mulai dimintai pertanggungjawaban atas peran mereka selama era Nazi.
Menurut editor sejarah Die Zeit, Christian Staas, banyak warga Jerman kala itu menolak proses hukum yang lebih luas karena menganggap orang-orang yang diadili adalah sosok terhormat. Mereka kemudian lebih melihat diri sebagai korban perang dibanding pihak yang ikut menopang rezim.
Sesudah perang, pemerintah Sekutu menjalankan program denazifikasi. Seluruh warga diwajibkan mengisi formulir mengenai riwayat pekerjaan, aktivitas politik, serta keterlibatan dengan Partai Nazi. Dalam praktiknya, banyak orang berusaha menampilkan diri seolah tidak memiliki hubungan berarti dengan rezim tersebut.
Di masyarakat kemudian muncul istilah Persilschein, merujuk pada surat hasil denazifikasi yang dianggap mampu “membersihkan” masa lalu seseorang, layaknya deterjen Persil yang terkenal pada masa itu. Konsep tersebut dinilai menjadi simbol upaya menghapus rasa bersalah terhadap sejarah.
Assmann menyebut negara-negara Sekutu Barat, khususnya Amerika Serikat, lebih memilih membangun kembali Jerman dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang sudah ada. Pendekatan itu membuat banyak mantan anggota Nazi tetap memperoleh posisi dalam pemerintahan maupun lembaga negara demi mempercepat proses rekonstruksi.
Memasuki dekade 1950-an, fokus masyarakat beralih kepada pembangunan ekonomi yang dikenal sebagai Wirtschaftswunder atau keajaiban ekonomi Jerman. Pertanyaan mengenai masa lalu baru muncul kembali ketika generasi berikutnya mulai mempertanyakan peran orang tua mereka selama perang.
Perdebatan semakin menguat pada akhir 1960-an hingga 1970-an, salah satunya dipicu serial televisi Holocaust yang mengangkat penderitaan keluarga Yahudi dan membuka diskusi luas mengenai tanggung jawab masyarakat Jerman terhadap tragedi tersebut.
Kini, publikasi arsip NSDAP kembali memunculkan diskusi serupa. Hanno Dannenfeldt mengaku keluarganya mengetahui bahwa salah satu kakeknya pernah bersekolah di Napola, lembaga pendidikan elite bentukan rezim Nazi. Namun ketika bukti mengenai anggota keluarga lain mulai ditemukan, muncul kecenderungan untuk mencari berbagai pembenaran.
Menurutnya, banyak keluarga berdalih leluhur mereka masih berusia muda, dipengaruhi orang tua, atau sekadar mengikuti keadaan. Padahal hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan seseorang dipaksa menjadi anggota Partai Nazi tanpa persetujuannya.
Dannenfeldt mengaku menyesal tidak memiliki kesempatan lagi bertanya langsung kepada para anggota keluarga yang telah meninggal. Baginya, keberadaan kartu keanggotaan tersebut menjadi bukti nyata yang sebelumnya tidak pernah dimiliki keluarganya.
Meski Jerman dikenal sebagai salah satu negara yang paling serius menghadapi sejarah kelam Nazi melalui memorial, pendidikan, dan berbagai monumen peringatan, Dannenfeldt mengingatkan bahwa ancaman ekstremisme tetap ada. Menguatnya kelompok politik sayap kanan menjadi pengingat bahwa sejarah dapat terulang jika masyarakat mengabaikan pelajaran masa lalu.
Menurutnya, pertanyaan terpenting bukan lagi siapa yang bersalah puluhan tahun lalu, melainkan bagaimana masyarakat masa kini bersikap ketika demokrasi menghadapi ancaman. Keberanian mempertahankan nilai-nilai demokrasi, kata dia, menjadi pelajaran paling penting dari sejarah tersebut.
