OAKLANDPOLICEBEAT — Jakarta – Ketika tarif diberlakukan pada berbagai barang impor, selalu ada pihak yang harus membayar. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kerap menegaskan beban tersebut ditanggung negara asing maupun perusahaan luar negeri.
Namun, bukti terbaru menunjukkan justru bisnis dan konsumen AS yang makin merasakan dampaknya.
Trump Klaim Tarif Tak Bebani Rakyat AS
Dalam unggahan di media sosial Truth Social awal bulan ini, Trump menyebut tarif justru menguntungkan.
“Terbukti, bahkan di tahap ini, tarif tidak menyebabkan inflasi atau masalah lain bagi Amerika Serikat, selain kas besar yang masuk ke perbendaharaan negara. Konsumen hampir tidak membayar tarif, sebagian besar ditanggung perusahaan dan pemerintah asing,” tulis Trump, seperti dikutip dari CNN, ditulis Rabu (27/8/2025).
Namun, pernyataan itu tidak disertai bukti apa pun.
Sejumlah data ekonomi, riset akademik, pengeluaran bisnis, hingga pengalaman konsumen menunjukkan sebaliknya: tarif membuat harga barang naik di AS. Dampak ini bahkan diperkirakan semakin berat seiring penerapan tarif baru yang merembes ke rantai pasokan.
Penemuan Data Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4266421/original/073275700_1671506038-20221220-Libur-Natal-Tahun-Baru-AS-AP-1.jpg)
Jika eksportir asing benar menyerap biaya tarif, seharusnya harga ekspor eksportir asing ke AS turun. Artinya, harga impor AS akan lebih rendah.
Namun, data terbaru menunjukkan harga impor justru stabil, bahkan naik tipis 0,5% sejak pemilu November dan 0,2% sejak Maret, menurut Pantheon Macroeconomics.
Pantheon menilai, meski ada stok besar barang sebelum tarif berlaku pada akhir 2024 hingga tiga bulan awal 2025, harga impor tidak juga turun tajam. Itu berarti beban tarif tidak ditanggung eksportir, melainkan importir di AS.
“Hal itu membuat eksportir asing kewalahan dengan pesanan, sehingga memberikan sedikit insentif untuk memangkas harga sebelum tarif agar tetap kompetitif. Namun, harga impor tetap tangguh meskipun impor barang menurun tajam pada [kuartal kedua], yang menunjukkan bahwa penurunan harga yang tajam di masa mendatang kecil kemungkinannya.” Lanjut ekonom Pantheon, Samuel Tombs dan Oliver Allen, dalam catatan tertanggal 19 Agustus.
Kepala Penelitian Ekonomi AS Fitch Ratings, Olu Sonola menegaskan, data menunjukkan semua biaya ditanggung importir.
“Pertanyaannya, sekarang pertanyaannya, apakah produsennya, pengecernya, atau usaha kecilnya yang mengimpornya? Mereka sekarang harus mencari tahu, Berapa banyak yang bisa saya tanggung, dan berapa banyak yang akan saya teruskan?,”
“Kemungkinan besar sebagian besar dari mereka bersiap meneruskan,” ia menambahkan.
Tanggapan Goldman Sachs
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2947434/original/027332300_1571819804-Ilustrasi_Goldman_Sachs__AFP_PHOTO_.jpg)
Sejauh ini, konsumen AS baru menanggung sekitar 22% biaya tarif hingga Juni. Namun, ekonom Goldman Sachs, memperkirakan angkanya naik menjadi 67% pada Oktober.
Prediksi ini memicu reaksi keras dari Trump yang menuntut Goldman Sachs memecat kepala ekonomnya.
Ekonom Goldman Sachs mengatakan mengenai perkiraan terdapat kenaikan biaya tarif sebesar 70% dari biaya langsung tarif pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen, dan totalnya dapat terus bertambah hingga 100% jika efek limpahan dari produsen dalam negeri yang menaikkan harga diikutsertakan.
Pada saat yang sama, inflasi tetap relatif jinak karena alasan baik dan tidak begitu baik: Tren deflasi yang berkelanjutan di area-area utama, yang menandai berlanjutnya pemulihan dari kekurangan dan lonjakan harga era pandemi; turunnya harga gas (turun 9,5% dari Juli tahun lalu) di tengah ketidakpastian ekonomi global; dan kemudian karena menurunnya permintaan konsumen di area-area seperti perjalanan.
Namun, laporan inflasi Indeks Harga Konsumen mengungkap sejumlah barang impor penting mulai naik harga, termasuk perabot rumah tangga, kain linen, alat perkakas, mainan, dan perlengkapan olahraga.
Tarif Picu “Sneakflation” atau Inflasi Diam-Diam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4266425/original/035543800_1671506043-20221220-Libur-Natal-Tahun-Baru-AS-AP-5.jpg)
Pada 8 Agustus, Penelitian dari profesor Harvard Business School Alberto Cavallo menunjukkan barang impor kini 5% lebih mahal dibanding tren sebelum tarif, sementara produk domestik naik 3%.
“Saya rasa perlu waktu lebih dari setahun bagi kita untuk melihat dampak tarif ini,” ujarnya.
Cavallo menyebut kenaikan harga akibat tarif bisa muncul bertahap hingga dua tahun ke depan. “Dampaknya tidak langsung terasa, tetapi dalam setahun atau dua tahun konsumen akan menyadari mereka membayar lebih banyak akibat tarif,” kata Cavallo.
Hal senada muncul dari survei Federal Reserve Bank of Atlanta. Pada akhir 2024, bisnis memperkirakan kenaikan harga 2,5% di tahun berikutnya. Namun, pada Mei 2025, proyeksi itu melonjak menjadi 3,5%, baik dari perusahaan yang terkena tarif maupun tidak.
Menurut Atlanta Fed, yang menemukan bahwa terdapat sedikit perbedaan dalam ekspektasi pertumbuhan harga perusahaan dengan atau tanpa eksposur asing.
Perusahaan Bakal Bebankan Dampak Tarif ke Konsumen
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4266427/original/007080600_1671506046-20221220-Libur-Natal-Tahun-Baru-AS-AP-7.jpg)
Namun, survei memperlihatkan mengenai sektor yang mengalami kenaikan. Kenaikan yang lebih drastis itu dialami oleh kalangan perusahaan penyedia jasa, yang akan menyoroti pertanyaan seputar apakah kenaikan harga ini dapat memberikan dorongan inflasi seperti tiga tahun sebelumnya.
Dalam sebuah laporan, peneliti Fed Atlanta mencatat mengenai kekhawatiran utama terkait dampak tarif adalah apakah akan mengalami fenomena yang sama seperti yang disaksikan selama pandemi. Artinya, apakah tekanan harga akan meluas melampaui harga yang secara langsung dipengaruhi oleh kenaikan bea masuk?”
Ekonom AS di Guggenheim Investments, Matt Bush mengatakan beberapa bulan selanjutnya, ekspektasinya adalah penerapan tarif akan dilakukan secara bertahap.
“Para pelaku bisnis mengatakan mereka bekerja sama dengan pemasok dan konsumen untuk membantu berbagi beban biaya,” ujarnya. “ Mereka memang mengindikasikan bersedia menanggung sebagian biaya untuk saat ini. Namun, saya pikir seiring dengan kesadaran bahwa tarif ini tidak akan turun, mereka akan mulai membebankan lebih banyak biaya kepada konsumen.’
Strategi Perusahaan Ritel
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3960704/original/044242100_1647078105-000_324Y8HA.jpg)
CEO Walmart Doug McMillon pun mengaku biaya perusahaannya naik tiap pekan akibat tarif. Meski begitu, Walmart berkomitmen menahan harga tetap stabil “selama kami bisa.”
Namun, strategi banyak retailer kini menggunakan sneakflation dengan menaikkan harga sedikit demi sedikit agar konsumen tidak langsung menyadari.
“Orang Amerika berpenghasilan rendah sayangnya mahir mengatur pengeluaran mereka dan berusaha memanfaatkan setiap sen dengan baik,” tulis kepala ekonom di Navy Federal Credit Union, dalam surel kepada CNN.
“Mereka mungkin tidak makan daging atau kopi selama satu minggu demi membeli sepatu untuk anak-anak mereka. Minggu selanjutnya, mereka mungkin tidak membayar cicilan mobil untuk menutupi tagihan listrik dan biaya pengobatan. Ini adalah situasi yang terus-menerus di mana mereka mengalokasikan uang untuk kebutuhan paling mendesak mereka saat itu.”
Dengan jutaan warga AS hidup dari gaji ke gaji, kenaikan kecil sekalipun bisa berarti pengorbanan besar: menunda cicilan mobil demi bayar listrik, atau mengurangi konsumsi makanan demi kebutuhan anak.